Bayi Tiga Bulan Melamun?

Beberapa kali saya mendapati Dayu, anak saya, melamun. Menurut saya lucu melihatnya yang baru berusia tiga bulan melakukan hal tersebut. Matanya menerawang, entah kemana Ia mengembara angan-angan. Saya sering menerka-nerka apa yang Ia lamunkan. Tapi tidak pernah bisa mencapainya.

Terkadang saya juga melamun. Ada dua kategori lamunan yang saya lakukan; pertama melamun untuk berangan-angan, berandai-andai, atau mengembarakan pikiran, dan kedua melamun tanpa memikirkan apapun. Tetapi untuk bayi tiga bulan, apa yang Ia lamunkan? Dan saya selalu geli ketika melihatnya melamun.

Ada satu momen ketika Dayu melamun dan saya sedang memandanginya, lalu Ia terlihat senyum-senyum sendiri. Tentu saja saya jadi sangat gemas dan tidak tahan untuk menciumi pipinya. Sontak Ia kaget, matanya yang bening dan seperti tahu bulat itu membesar, mulutnya yang mungil dan merah terperangah. Lucu sekali. Sedetik kemudian Ia tertawa cekikikan dan kami pun tertawa bersama.

Tapi jika orang lain yang mendapatinya melamun pasti langsung menghardik “jangan melamun” seraya mengusap-usap wajahnya agar tersadar dari lamunan. Apa yang salah dengan melamun? Menurut saya melamun adalah salah satu cara menyalurkan emosi dan pikiran, tidak ada salahnya jika masih dalam taraf normal, yang berarti tidak mengganggu interaksi diri dengan lingkungannya.

Saya ingat, delapan tahun silam, ketika saya di Nara, Jepang, saya pernah mengunjungi sebuah panti asuhan yang menampung anak-anak korban tsunami dan gempa bumi. Selain memiliki lampu kamar mandi otomatis yang sempat membuat saya bingung, panti asuhan itu juga memiliki sebuah ruangan khusus untuk melamun. Untuk melamun! Saya ingat betul ruangan itu berukuran tiga kali empat meter dengan jendela kaca besar yang menghadap ke taman. Sebuah kursi berwarna putih tampak menghadap jendela. Di lantai terhampar karpet berwarna lembut, dan di sudut ruangan terdapat sofa beludru berwarna senada.

Pengurus panti asuhan mengatakan anak-anak korban bencana alam memiliki trauma masing-masing. Mereka butuh privasi untuk bercakap-cakap dengan diri sendiri atau sekedar menyendiri. Konsep yang tidak biasa pikir saya kala itu. Di sana juga ada ruang untuk marah. Letaknya persis disebelah ruang melamun. Ruangan berukuran sama yang dilapisi karpet kedap suara dengan warna yang lebih cerah. Sebuah samsak besar berwarna merah tergantung di tengah-tengahnya. Pengurus panti berujar jika ingin marah masuklah keruang itu, silahkan berteriak dan memukul samsak sesukamu, emosi yang tidak tersalurkan justru mebahayakan.

Saya masih ingat kata-katanya sampai sekarang. Dan saya tidak mau mengganggu Dayu jika sedang melamun. Silahkan melamun nak, bawa anganmu mengembara, pupuk mimpi sesukamu.

vemelinda

Menjadi ibu adalah hal paling luar biasa dalam hidup saya. Memang tidak mudah, tapi tidak perlu dibuat sulit. Banyak hal tidak terduga yang terjadi dalam hidup saya dan sebisa mungkin akan ditulis di blog ini. So… enjoy! Hubungi saya di : venantiamelinda@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *