30 Hari Bercerita

Yang tertulis akan abadi yang terucap akan hilang terbawa angin ― Pramoedya Ananta Toer

30HariBercerita

Tahun lalu saya telah meniatkan diri untuk rajin menulis. Saya cantumkan niat itu pada deretan teratas wishlist 2017. Dan untuk mendukungnya saya ikut tantangan 30 hari bercerita. Menulis setiap hari tentang apa saja di Instagram. Tapi kok ya ada saja halangannya. Dari yang tidak bisa posting karena sinyal buruk hingga akhirnya hp mati berhari-hari. Dan karena saya bukan gadget mania, jadi ketika si telepon pintar bermasalah atau mati saya santai-santai saja. Toh masih ada hp jadul yang bisa buat sms dan telepon, mengakses internet juga bisa dilakukan via pc. Sayangnya posting di Instagram hanya bisa dilakukan melalui telepon pintar. Instagram di pc hanya mampu membalas komentar. Alhasil tulisan saya mandeg pada hari ketiga.

Meski progran 30 hari bercerita dipause sementara, niat saya menulis di blog ini tetap berjalan temans. Satu bulan empat tulisan baru harus dihasilkan. Sebenarnya tidak sulit, persoalan terbesar yang sering menjadi batu sandungan adalah menundanya. Sekali menunda dua tiga kemalasan menjangkiti. Ini penyakit kambuhan saya, dan mungkin teman-teman juga. Alasan untuk membenarkan kemalasan bertebaran di udara, tinggal kita comot saja. Apa lagi emak-emak seperti saya, alasan klasik gak sempet ngleblog gara-gara ngurusin anak terdengar ciamik dan termaafkan. Padahal buat facebookan saja lancar jaya.

Tapi sebenarnya alasan itu untuk siapa sih? Toh tidak ada yang menilai juga. Tidak ada atasan yang perlu penjelasan seperti saat terlambat masuk kantor. Program 30 hari bercerita pun tidak menjanjikan kemenangan dan hadiah. Semua dilakukan dengan niat untuk diri sendiri. Kalau berhasil yang puas ya diri sendiri. Kalau gagal cari alasan untuk menenangkan diri sendiri. Jadi alasan-alasan yang bertebaran itu hanya digunakan untuk pembenaran diri, bahasa jawanya yem-yem. Kalau sudah ayem lupa deh dengan niat di awal tahun yang menggebu-gebu.

“Jadi 2017 yang baru seusia tunas jagung sudah dikhianati resolusi yang gagal lagi?” (ngomong sama cermin).

“Kalau begini terus kapan bisa move on.

Harus ada perubahan, perbaikan, dan buang jauh-jauh kemalasan. Lupakan semboyan “nanti saja, bentar lagi, mengko sek“, dan kroni-kroninya. Sembuhkan penyakit kambuhan secara total, mulai dari yang kecil dan mulai sekarang. Beri teguran keras pada diri sendiri jika kemalasan mulai mendekati. Semesta pasti mendukung.

Semangatku

 

Januari 2017

 

vemelinda

Menjadi ibu adalah hal paling luar biasa dalam hidup saya. Memang tidak mudah, tapi tidak perlu dibuat sulit. Banyak hal tidak terduga yang terjadi dalam hidup saya dan sebisa mungkin akan ditulis di blog ini. So… enjoy! Hubungi saya di : venantiamelinda@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *