Mamah Muda Butuh Ber-Sosialita

Istilah sosialita akrab disandang para wanita berpunya yang menghabiskan waktu dan uangnya untuk berkumpul dan bergaul. Mengadakan arisan dengan iuran fantastis dan tidak lupa menenteng Louis Vuitton, Hermes, atau Chanel. Tapi tidak hanya perempuan kelas atas saja yang boleh menjadi sosialita. Mamah muda juga butuh ber “sosialita”.

Bagi sebagian perempuan (termasuk saya) menjadi ibu baru atau mamah muda itu berat, percayalah. Kami yang biasanya subuh masih tidur, sekarang sudah sibuk di dapur menyiapkan bubur. Dulu jam makan siang adalah saat kongkow bersama teman-teman. Sekarang? Yang penting anak makan, saya mah gampang! Dulu sepulang kerja mampir warung kopi, ha-ha-hi-hi sampai lupa diri. Sekarang pukul lima sore sudah parkir kendaraan di garasi rumah. Yang dulu hobi begadang demi nyelesain drama korea kini langsung tarik selimut ketika anak sudah tidur, walau jam masih menunjuk angka delapan.

“Lalu kapan kami ber ha-ha-hi-hi lagi?” Begitulah dilema mamah muda. Sehingga kami butuh yang namanya berkumpul dan bersosialisasi.

Mamah muda adalah kaum merana yang kurang hiburan dan pergaulan. Maka dari kaum-kaum merana ini lahirlah gerakan mamah-mamah yang menolak tunduk menuntut tanggung jawab, eeh.

Merujuk pada Tan Malaka yang mengatakan berpisah kita menghimpun, berkumpul kita menggempur maka saya merasa perlu ada perkumpulan mamah-mamah muda. Dan karena saya menikah pada usia umumnya perempuan menikah, maka tidak sulit menemukan sejawat yang beranak-pinak bersamaan.

Berawal dari kebutuhan saya yang kala itu sedang hamil dan memerlukan bimbingan dari yang berpengalaman, maka saya mengajak teman-teman yang dulu pernah menghabiskan waktu bersama di jalan untuk membuat grup ibu hamil (entah kebetulan atau setingan, rentang kehamilan kami bersamaan). Sejak agenda tilik bayi yang hampir rutin setiap bulan, kami lantas membentuk kelompok arisan. Tentu saja agar kegiatan kumpul-kumpul kami tidak terhenti ketika semua sudah lahiran. Masak iya harus ada yang hamil lagi agar bisa kumpul-kumpul tilek bayi.

Lalu Mama Kuasa pun lahir bersama dengan kelahiran anak-anak kami. Mama Kuasa beranggotakan kawan-kawan yang dulu satu barisan dalam pergerakan, jaman masih kuliah dan pegang megaphone di jalan. Karena perempuan di gerakan tergolong langka, maka Mama Kuasa melebarkan sayap dan menyentuh ring dua yaitu merekrut para istri. Tetapi lagi-lagi karena para lelaki yang menikah juga masih bisa dihitung dengan jari maka penambahan jumlah anggota tidak signifikan, tapi lumayanlah untuk menambah kas arisan.

Kegiatan arisan dilakukan pada akhir pekan di minggu kedua. Ajang kumpul mamah muda ini tentu sangat meriah karena masing-masing membawa buntutnya, apa lagi yang sudah dua, waaar byasah. Nah disinilah peran bidadari penyelamat sangat diharapkan. Anggota Mamah Kuasa yang masih lajang atau coming soon jadi mamah adalah oase bagi mahmud yang butuh ngerumpi tanpa direcoki bayi.

Selain arisan tentu saja kegiatan berkumpul bersama ini adalah cara kami mencharge diri. Dari tukar pengalaman mengurus anak hingga ngegosipin mertua, eeeaaa…  Bahagia kami sederhana, bisa berkumpul dengan teman dan bertukar cerita, masak dan makan bersama, dan tentu saja foto bersama agar tetap eksis di sosial media.

Begitulah mamah muda, karena yang berharga bukan Louis Vuitton, Hermes, atau Chanel tapi kami yang berkumpul dan berhimpun.

Hidup Mama Kuasa!

 

vemelinda

Menjadi ibu adalah hal paling luar biasa dalam hidup saya. Memang tidak mudah, tapi tidak perlu dibuat sulit. Banyak hal tidak terduga yang terjadi dalam hidup saya dan sebisa mungkin akan ditulis di blog ini. So… enjoy! Hubungi saya di : venantiamelinda@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *