The Little Prince dan Kenangan Masa Kecil

Yang pertama selalu memberi kesan mendalam dalam hidup seseorang. Seperti ciuman pertama, buku juga memiliki kesan tersendiri bagi pemiliknya. Masih ingat buku pertamamu? Buku cerita, dongeng, atau apapun yang hanya milikmu. Tentu bukan buku pelajaran yang diwajibkan sekolah untuk membelinya, bukan juga buku perpustakaan yang harus segera dikembalikan setelah minggu berlalu.

Aku masih ingat buku pertamaku, buku yang hanya untukku, milikku, dan tanpa embel-embel “untuk berdua”. Begitulah jadi kakak, semua barang yang dibelikan orang tua (termasuk buku) pasti berembel-embel begitu. Tapi buku ini lain. Aku mendapatkannya dari kenalan bibiku, seorang warga negara Belanda, Jef Schaap namanya. Aku masih ingat betul, kala itu kunjungan pertamanya ke Jogja. Ia menghadiahiku sebuah buku berjudul The Little Prince karya Antoine de Saint-Exupéry . Tertulis pesan di halaman pertama “untuk Linda”, dan itulah buku pertamaku.

The Little Prince adalah novel berbahasa Perancis yang diterbitkan tahun 1943 dengan judul Le Petit Prince. Kemudian diterjemahkan ke dalam 180 bahasa, bahkan lebih. Diterbitkan pertama kali dalam bahasa Indonesia tahun 1979 oleh Pustaka Jaya dan diterbitkan kembali oleh Gramedia pada 2003 dan 2010 dengan judul Pangeran Kecil.

Meski ditujukan untuk anak-anak, novel The Little Prince sarat dengan pesan mendalam tentang kehidupan. Cerita tersebut dimulai ketika sebuah pesawat beserta pilotnya terjatuh di tengah gurun Sahara. Ketika sang pilot sedang berjuang mati-matian memperbaiki pesawat agar bisa kembali ke peradabannya, tiba-tiba muncul seorang anak laki-laki yang memintanya menggambar biri-biri. Sebuah permintaan yang tidak logis di tengah cuaca terik dan ketiadaan air. Tetapi dengan keras hati anak tersebut terus memintanya menggambar biri-biri, hal tersebut menyeret kenangan masa kecil sang pilot dimana tidak ada orang dewasa yang mengerti keinginannya.

Antonie seolah ingin mengatakan orang-orang dewasa terlalu fokus pada hal duniawi dan melupakan hal-hal menyenangkan dibalik kehidupan. Semua menjadi terukur dengan angka. Kebahagiaan adalah bergaji tinggi, kepandaian adalah sederet gelar dan prestasi, serta pertemanan dipengaruhi oleh posisi dan jabatan. Orang-orang dewasa kemudian melupakan esensi hidup sejati. Lupa cara menikmati matahari terbit dan melewatkan indahnya matahari tenggelam. Semua tergantikan target mengejar materi. Antonie memberikan kutipan menarik yang menunjukkan bagaimana orang dewasa berpikir tentang sebuah keindahan.

“Jika kau berkata kepada orang-orang dewasa, “Aku melihat rumah indah terbuat dari bata merah jambu, dengan bunga geranium di jendela-jendelanya, dan merpati di atapnya, mereka tak bisa membayangkan rumah semacam itu. Kau harus berkata, ‘Aku melihat rumah yang harganya seratus ribu franc;’ Maka  mereka akan berseru, ‘Oh pasti indah sekali!”

Cerita dalam novel tersebut pun berlanjut dengan Pangeran Kecil yang menjelajah enam asteroid. Pada masing-masing asteroid pangeran kecil berjumpa dengan orang sifat berbeda-beda, tetapi keenam orang tersebut menggambarkan jenis manusia yang mendominasi penduduk bumi.

Pangeran Kecil berhasil membawa pembaca berpetualang menjelajah alam semesta. Dengan bahasa sederhana dan lugas, buku ini berhasil menyampaikan pesan penting tentang kehidupan.Sebuah kutipan yang terkenal dari novel ini adalah #

“On ne voit bien qu’avec le cœur, l’essentiel est invisible pour les yeux. Seseorang hanya dapat melihat dengan sebaik-baiknya melalui hatinya, karena yang terpenting (dalam kehidupan) tidak terlihat oleh mata.”

vemelinda

Menjadi ibu adalah hal paling luar biasa dalam hidup saya. Memang tidak mudah, tapi tidak perlu dibuat sulit. Banyak hal tidak terduga yang terjadi dalam hidup saya dan sebisa mungkin akan ditulis di blog ini. So… enjoy! Hubungi saya di : venantiamelinda@gmail.com

2 thoughts on “The Little Prince dan Kenangan Masa Kecil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *