Kado Cinta Untuk Yang Tercinta

Dua tahun lalu suamiku menjual kamera kesayangannya dan memilih menggunakan handy-cam jadul untuk bekerja. Waktu itu aku tanya kenapa, jawabnya buat tambah modal nikah. Suamiku seorang video jurnalis, hidupnya tidak bisa lepas dari kamera. Bisa dikatakan istri pertamanya ya kamera, tapi Ia merelakan kameranya demi menyandingku, jadi terharu.

Aku tahu Ia mencintaiku begitu besar, meski aku bersikap absurd dan banyak maunya Ia tetap sabar. Jika ditanya siapa yang paling aku sayang dan cinta, tentu suamiku. Tapi jujur, Ia bukan cinta pertama. Seperti kebanyakan anak perempuan, cinta pertamaku adalah ayah dan itu tak pernah bisa berubah. Kemudian aku mengira Ia akan menjadi cinta terakhir, ternyata salah. Setelah anak perempuan kami, Dayu Rinjani, lahir sebelas bulan lalu, aku menemukan cinta baru. Dan aku memadu cinta suamiku.

Ia memang bukan cinta pertama dan terakhir, tapi Ia akan menjadi yang selamanya bersanding. Suamiku lelaki hebat, aku jatuh cinta padanya dalam cara yang selalu berbeda. Setiap malam Ia selalu menjadi yang paling akhir terjaga. Memastikan kami sudah lelap, baru Ia menggulung diri di kasur. Ia juga patner hidup yang super, kami berbagi tugas mengurus rumah dan mengasuh anak. Percayalah, setelah menikah lelaki gagah bukanlah yang berotot kekar, tapi yang mau mencuci dan menjemur baju. Ia juga ayah yang keren, jago bikin permainan dan telaten nyupin makan.

Aku telah membuat patah hati ayahku dengan memilih menghabiskan hidup dengannya. Masih jelas terbayang, ayah yang menangis sesenggukan saat memberi restu di pelaminan. Aku dan suami masih pemula, biduk rumah tangga kami baru berlayar sampai ujung teluk, kalah jauh dengan nenek moyangku yang seorang pelaut, mereka tentu telah menghabiskan seumur hidupnya di samudera. Manis getir prahara rumah tangga pasti menerpa, kadang hanya seperti kecipak air, kali lain seperti badai. Tapi biduk kami masih teguh berlayar. Begitulah ketika dua kepala hidup bersama, dan kami bahagia mengarunginya.

Suamiku lelaki tangguh, Ia tidak mudah mengeluh. Sejak kameranya dijual Ia belum menemukan kesayangan yang baru. Ada satu kamera idamannya, tapi karena harga kurang ramah kantong dan mengingat ada tiga perut yang terus menggiling (perut saya sih yang paling banyak tampungannya, maklum ibu menyusui), suamipun hanya lirak-lirik di situs belanja.

Nah kemarin suamiku berulang tahun. Inginnya sih ngado kamera dari http://www.elevenia.co.id/ctg-kamera tapi berhubung belum ada anggarannya ya belikan pelengkapnya saja, lensa kamera tapi KW. Lensa yang Ia butuhkan harganya masih sebelas dua belas dengan kamera idamannya, sama-sama bikin dompet menjerit. Alhasil aku belikan tumbler lensa nikon 24-70. Bentuknya mirip banget dengan lensa asli, manfaatnya juga tidak kalah. Suami bisa rajin bawa minum waktu tugas lapangan, sekaligus dapat mengurangi sampah botol kemasan. Ia juga tidak perlu malu lagi nenteng botol minum kesana-kemari, kan dikira lensa.

Saat buka kado Ia langsung curiga, lensa kok ringan katanya. Yah… istrimu baru sanggung ngasih KWnya, kalau mau asli beli sendiri saja. Berikut video detik-detik suami kena jebakan batman. Selamat ulang tahun ya Suam! Terus jadi lelaki hebat untuk istri dan anakmu. Tambah rajin nyuci baju dan mencium istrimu. Aku yakin kamu akan menjadi cinta pertama Dayu Rinjani yang tak pernah terganti. Dan tentu saja teman bersandingku selamanya.

I love You!

Yogyakarta, Maret 2017

vemelinda

Menjadi ibu adalah hal paling luar biasa dalam hidup saya. Memang tidak mudah, tapi tidak perlu dibuat sulit. Banyak hal tidak terduga yang terjadi dalam hidup saya dan sebisa mungkin akan ditulis di blog ini. So… enjoy! Hubungi saya di : venantiamelinda@gmail.com

2 thoughts on “Kado Cinta Untuk Yang Tercinta

  • April 21, 2017 at 7:31 am
    Permalink

    Aduh fotonya keren sekali mbak Linda, suasananya seperti gimana gitu, ada vespa dan background Rumah kayu. Jogja bingiiittt….Salam kenal ya mbak, kalau pas jalan-jalan ke Kalasan…mampir ya…. 🙂

    Reply
    • April 21, 2017 at 9:35 am
      Permalink

      Salam kenal juga mbak. Kakek suami saya aslinya Kalasan, jadi suami masih banyak saudara di sana. Cuma akunya kurang srawung. hehehe…

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *