Tomoe Gakuen, Sekolah Inklusi Totto-chan Si Gadis Cilik di Jendela

Judul buku  : Totto-Chan, Gadis Cilik di Jendela
Penulis         : Tetsuko Kuroyanagi
ISBN             : 978-979-2-3655-2
Penerbit       : PT. Gramedia Pustaka Utama, cetakan keduapuluh dua, Januari 2017
Jumlah hlm : 272 halaman. 

Setelah dikeluarkan dari sekolah pertamanya -yang sebenarnya baru dimulai- Totto-chan pindah ke SD Tomoe Gakuen. Sekolah barunya ini sangat unik. Alih-alih menggunakan kelas permanen berdinding bata, enam gerbong kereta yang tak terpakai disulap menjadi kelas. Disana juga tidak ada tembok menggelilingi halaman. Tomoe menggunakan tanaman sebagai pagar dan menghiasi halamannya dengan petak-petak bunga. Hal lain yang menyedot perhatian Totto-chan saat pertama datang adalah gerbang sekolah dari pohon hidup lengkap dari akar hingga daun. Ia mengatakan gerbang itu akan terus tumbuh sampai lebih tinggi dari tiang telepon (hlm. 19).

Totto-chan sangat senang dengan skolah barunya, tetapi sampai beranjak dewasa Ia tidak pernah tahu kenapa harus pindah sekolah. Mamanya tidak pernah menceritakan kejadian itu sampai Ia melewati ulang tahunnya yang ke dua puluh. Totto-chan merasa sangat beruntung. Andai saja Ibunya mengatakan Ia dikeluarkan karena mengacau kelas dan turut menyudutkannya, Ia pasti akan merasa menjadi anak tak berguna (kisah penulis di halaman epilog).
.

Singkat cerita, Totto-chan dikeluarkan karena gurunya tidak sanggup mengikuti tingkah gadis cilik ini. Totto-chan tidak jahat, juga tidak nakal. Ia hanya menjengkelkan bagi gurunya yang merasa kelasnya telah dikacaukan. Sekolah lamanya memiliki meja dengan tutup laci yang bisa dibuka ke atas, Totto-chan membuka dan menutupnya hingga ratusan kali dalam satu jam. Gurunya tidak dapat marah karena Ia melakukan dengan alasan yang benar. Totto-chan juga suka sekali duduk di depan jendela. Dari sana Ia memanggil pemusik jalanan dan meminta memainkan musik sehingga semua anak-anak berlarian menghampiri jendela. Kali lain Ia duduk di jendela dan berteriak lantang -juga berulang-ulang- pada burung walet yang sedang membuat sarang. Karena alasan totto-chan mengganggu proses mengajar di kelas bahkan mengganggu kelas lain, gurunya memanggil Mamanya dan meminta memindahkan Totto-chan.

Dayu-chan, gadis cilik di jendela

Sekolah barunya ini ditemukan Mama setelah mencari kemana-mana. Ia menginginkan sekolah yang bisa memahami dan mengajari gadis ciliknya menyesuaikan diri dengan orang lain. Sejak pertama masuk Tomoe, Totto-chan langsung merasa cocok dengan sekolahnya. Terutama pada Mr. Kobayashi, Kepala Sekolah Tomoe Gakuen. Saat pertama bertemu dan menyampaikan maksud ingin bersekolah di Tomoe, Mr. Kobayasi meminta Mama meninggalkan mereka berdua. Segera setelah itu Ia meminta Totto-chan menceritakan apa saja tentang dirinya. Lelaki itu selalu tertarik pada apa yang diceritakan Totto-chan. Ia tidak bosan ataupun menguap  selama empat jam penuh. Saat Totto-chan sudah kehabisan bahan obrolan, tepat saat itulah Mr. Kobayasi berdiri, meletakkan tangan di kepala Totto-chan dan berkata “Nah, sekarang kau murid sekolah ini” (hlm.26). Sejak itu Mr. Kobayasi adalah idola Totto-chan.

 

Sekolah Tomoe memiliki sedikit murid, dari kelas satu hingga enam hanya sekitar lima puluh anak. Tetapi jumlah ini justru sangat ideal untuk membangun hubungan yang dekat antara guru dengan masing-masing murid. Di Tomoe anak-anak bebas memilih kursi untuk duduk, mereka juga bebas mengurutkan pelajaran sesuai minat. Dan hal lain yang penting adalah anak-anak berkebutuhan khusus diperlakukan sama dan berbaur menjadi satu dengan yang lain.

Salah seorang teman Totto-chan, Yasuaki-chan, mengidap polio sejak kecil. Ia memiliki jari-jari yang bengkok dan berjalan dengan menyeret kakinya. Sebagai anak yang memiliki kekurangan fisik lumrah jika Ia merasa malu dengan tubuhnya. Tetapi Mr. Kobayasi dengan cerdas membuat kegiatan berenang yang memperbolehkan anak-anak telanjang. Anak kurus, gendut, laki-laki, perempuan, semua bergembira. Ia ingin mengajarkan semua tubuh itu indah, termasuk Yasuaki-chan yang badannya kecil karena cacat. Kepala sekolah berpendapat jika mereka telanjang dan bermain bersama, rasa malu akan hilang dan itu akan membantu mereka menghilangkan rasa rendah diri (hal. 72).

Jauh sebelum model sekolah inklusi berkembang di Indonesia, melalui bukunya Tetsuko Kuroyanagi telah menggambarkan sekolah inklusi yang sebenarnya. Sistem pendidikan paling mutakhir yang menyertakan semua anak termasuk anak berkebutuhan khusus dalam proses pembelajaran telah dilakukan oleh Tomoe Gakuen sejak 1937. Tomoe Gakuen terletak di Tokyo tenggara, didirikan oleh Sosaku Kobayasi di tahun 1937 dan terbakar habis pada 1945 saat perang Pasific berkecamuk.

Pendidikan inklusi sendiri telah diatur oleh pemerintah Indonesia sejak 2009. Aturan tersebut mewajibkan seluruh sekolah di kabupaten atau kota menyediakan pendidikan inklusi dari SD hingga SMA. Dulu (bahkan hingga sekarang) kita mengenal sekolah luar biasa (SLB) bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Istilah SLB kemudian berkembang menjadi olok-olokan dimasyarakat dan mengakibatkan anak-anak yang bersekolah disana merasa rendah diri. Sekolah inklusi hadir untuk memenuhi hak pendidikan anak yang setara bagi semua anak termasuk anak berkebutuhan khusus. Proses pembelajaran yang sama antara anak normal dan berkebutuhan khusus bertujuan mengikis sekat “kecanggungan” diantara mereka. Rasa percaya diri anak berkebutuhan khusus akan tumbuh dengan baik dan rasa empati anak normal akan berkembang dengan baik.

Dayu-chan membaca Totto-chan

Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela diterbitkan pertama kali tahun 1981 setelah menjadi serial artikel untuk majalah Young Woman. Totto-chan merupakan kisah masa kecil sang penulis, semua cerita dan tokoh yang ada dalam bukunya tersebut nyata. Ia merasa sangat beruntung bersekolah di Tomoe Gakuen dan bertemu Mr. Kobayasi sehingga Ia tumbuh sebagai anak yang percaya diri. Pada halaman 235, Tetsuko menceritakaan janji yang pernah Ia buat dengan kepala sekolah “Aku ingin mengajar di sekolah ini kalau sudah dewasa”. Janjinya belum dapat Ia tepati, tetapi kisahnya tentang Tomoe Gakuen berhasil mempengaruhi sistem pendidikan di Jepang. Karyanya ini menjadi buku terlaris dan mencatat sejarah dunia pernebitan Jepang dengan penjualan 4.500.000 buku dalam setahun. Totto-chan menjadi buku wajib bagi para pendidik di Jepang sejak tahun 1990-an.

Saya pertama kali membaca Totto-chan sekitar sepuluh tahun silam. Kala itu seusai menamatkannya dengan cepat karena alur ceritanya mengalir dan enak dibaca, saya merasa menjadi jebolan Tomoe. Dan seperti Totto-chan saya mengucap janji, ingin membuat atau mengajar di sekolah serupa Tomoe. Tahun-tahun berlalu, saya sempat mengajar anak-anak korban erupsi sebagai sukarelawan dan mengajar di taman kanak-kanak selama beberapa bulan. Tapi janji saya belum benar-benar terpenuhi.

Kali ini saya membaca kembali Totto-chan untuk anak saya yang menginjak usia setahun. Saya membacakannya sebagai cerita pengantar tidur. Lalu saya kembali membuat janji akan menyekolahkannya di sekolah serupa Tomoe. Di Yogyakarta -domisili saya sekarang- sekolah inklusi sudah bertebaran. Diantaranya adalah Sekolah Tumbuh yang berdiri sejak 2005 dan memiliki jenjang SD, SMP, dan SMA. Hasil penelurusan dan diskusi dengan orang tua yang telah menyekolahkan anaknya di Sekolah Tumbuh meyakinkan saya bahwa inilah Tomoe Gakuan masa kini. Selain disana ada juga Sekolah Kanisius Mangunan. Sekolah rintisan Romo Mangunwijaya ini mengusung kedekatan sosial dengan masyarakat sekitar sekolah sekaligus dengan alam sebagai sarana pembelajaran. Sekolah ini memiliki jenjang dari TK hingga SD.

Hal sama dari kedua sekolah ini yang saya suka adalah murid tidak perlu memakai seragam. Seperti di Tomoe, anak-anak tidak perlu seragam. Mereka cukup datang dengan baju paling usang. Karena hakikat pendidikan adalah menyatukan keberagaman bukan membuatnya seragam.

 

 

 

vemelinda

Menjadi ibu adalah hal paling luar biasa dalam hidup saya. Memang tidak mudah, tapi tidak perlu dibuat sulit. Banyak hal tidak terduga yang terjadi dalam hidup saya dan sebisa mungkin akan ditulis di blog ini. So… enjoy! Hubungi saya di : venantiamelinda@gmail.com

2 thoughts on “Tomoe Gakuen, Sekolah Inklusi Totto-chan Si Gadis Cilik di Jendela

  • May 30, 2017 at 8:50 am
    Permalink

    Pertama kali baca buku ini karena lihat di kantor BK di SMP dan akhirnya pinjem deh saking bagusnya. Saya suka banget ceritanya, sayang sekolahnya habis terbakar karena perang.

    Reply
    • May 31, 2017 at 1:40 am
      Permalink

      Saking senangnya sama buku itu sampai lupa mengembalikan ke BK ya? hehehe… piss

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *