Apakah Aku Bahagia?

Ketika menikah apakah masing-masing telah sepakat untuk meleburkan kebahagiaan pribadi demi membangun kebahagiaan bersama? Kebahagiaan apa yang dituju oleh sebuah perahu berisi dua kepala berbeda? Ketika aku berusaha membuat pasanganku bahagia, apakah dia benar-benar bahagia? Lalu, apakah aku sendiri juga bahagia? 

Pertanyaan-pertanyaan di atas berhamburan dikepalaku. Mencari jawabannya menjadi sangat sulit karena definisi kebahagian sendiri begitu absurd. Saat usiaku tujuh tahun, bahagia adalah ketika boleh tidur larut malam. Saat remaja bahagia adalah saat tahu orang yang aku taksir ternyata balik naksir. Lalu saat kuliah bahagia itu ketika bisa bayar uang semester dari hasil kerja partime. Saat jadi wartawan bahagia itu bisa bikin berita eksklusif dan jadi headline. Setelah menikah?

Aku menyadari tagline “lived happily ever after” hanyalah milik para putri dari negeri dongeng. Dan menyadari sifatku yang keras kepala, aku harus siap dengan segala perdebatan yang pasti terjadi. Dalam sebuah hubungan tentu kami tidak selalu sepaham. Ada saja perbedaan pendapat dan gesekan-gesekan yang memicu pertengkaran. Pertengkaran kecil bisa membesar hanya karena masing-masing bersikap paling benar. Tapi dari situ kami belajar. Hal terbaik untuk meredakan emosi saat pertengkaran hebat terjadi adalah mengingat kembali saat-saat kami jatuh hati.

Aku masih ingat, kami berkenalan di siang yang terik di depan pengadilan tinggi. Kala itu aku dan teman-teman sedang menggelar aksi menuntut pembebasan seorang buruh yang dikriminalisasikan. Ia? Sedang liputan tentu saja. Aku baru asik ngobrol dengan temanku yang juga seorang wartawan, ketika sosok lelaki (yang kemudian jadi suamiku ini) tiba-tiba menimpali obrolan kami dan mengajak kenalan. Jika aku membayangkan adegan itu, sosok yang muncul hanyalah lelaki berambut sebahu dengan jaket coklat lusuh. Jangan tanya wajahnya, karena hanya terbayang buram. hahaha

Jujur, saat berkenalan aku tidak memandang penuh. Sekedar mengulurkan tangan, senyum, sebut nama, dan berlalu. Bukan sombong, tapi diburu waktu. Bulan-bulan berlalu dan kami bertemu lagi. Aku yang sedang bergegas mengejar liputan dikagetkan dengan panggilannya. Ia dan kawannya juga tampak buru-buru mengejar liputan yang sama. Dilokasi acara, aku yang tampak plonga-plongo karena masih baru banget jadi wartawan tiba-tiba diseret ke area dekat panggung. “Kalau ambil foto dari sini, lebih bagus” ujarnya. Disitulah aku mulai ingat wajahnya, tapi masih belum hafal namanya.

Bulan berganti lagi dan Ia mengirimiku sebuah pesan. Entah dapat nomor telponku dari mana, karena aku tidak ingat pernah memberikan nomorku padanya. Dari situ kami mulai berkirim pesan, sekedar bertanya kabar atau membahas liputan. Komunikasi kami sebenarnya tidak sering, sesekali saja. Tapi karena sebuah proyek liputan yang melibatkan aku dan seniorku di Mapala (yang ternyata adalah teman kantornya) kami jadi lebih intens berkomunikasi.

Lalu entah kenapa kami saling menghilang. Lama sekali aku tidak mendapat kabar darinya dan sebaliknya aku juga tidak memberinya kabar. Hingga suatu ketika aku memimpikannya. Tidak ada pikiran apapun sebelumnya, Ia tiba-tiba muncul dimimpiku. Sampai sekarang adegan dalam mimpi itupun masih aku ingat. Kami berdua duduk di warung kopi, Ia bercerita tentang rencananya untuk meninggalkan Jogja. Mimpi itu terus membayangiku hingga beberapa hari kemudian aku memutuskan untuk menelponya. Suara renyah dan sumringah menggema ditelingaku, lalu kami pun ngobrol panjang lebar hingga berjam-jam. Mungkin memang alam bawah sadarku merindukannya.

Mulai saat itu kami menjadi dekat. Semakin sering jumpa dan melakukan banyak hal bersama. Tapi jika ditanya kapan ‘jadiannya’ kami tidak bisa menjawab. Semua serba mengalir hingga kami nyaman satu sama lain dan memutuskan untuk menikah. Ia mematahkan prinsipku yang ingin menikah di usia kepala tiga.

Rencana pernikahan juga bukan tanpa halangan. Menjelang hari pernikahan, aku ngotot liputan ke Nusakambangan (waktu itu akan dilakukan eksekusi terpidana mati kasus narkotika jilid II). Hal itu membuat kami bersitegang hingga terlintas pikiran untuk membatalkan pernikahan. Tapi semua kembali baik. Kami menyadari hubungan yang kuat harus melewati ujian yang berat. Dan ujian-ujian lainnya masih bertebaran di depan. Setelah menikah, tidak berarti kami bahagia selamanya. Ada saat kami sedih, marah, dan kecewa. Usia pernikahan kami masih sangat muda, baru menginjak tahun kedua, pertengkaran juga masih terjadi tapi semakin jarang, semakin jarang, dan semakin jarang, itu tandanya kami terus belajar.

Dan apakah aku bahagia? Saat menulis postingan ini jawabnya tentu saja. Untuk bahagia ternyata sangat mudah. Syukuri dan nikmati apa yang kamu miliki. Dan hal-hal kecil seperti suami makan lahap serta bilang masakanku enak sudah membuatku bahagia. Seperti hidup, bahagia itu sederhana, yang hebat-hebat hanya tafsirnya.

 

Sleman, 17 Mei 2017

vemelinda

Menjadi ibu adalah hal paling luar biasa dalam hidup saya. Memang tidak mudah, tapi tidak perlu dibuat sulit. Banyak hal tidak terduga yang terjadi dalam hidup saya dan sebisa mungkin akan ditulis di blog ini. So… enjoy! Hubungi saya di : venantiamelinda@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *