Ketika Membaca adalah Bermain yang Mengasyikkan

Yang aku takutkan kelak bukanlah anakku tidak dapat membaca, tetapi tidak gemar membaca. Kemampuan membaca dapat dipelajari dalam waktu singkat, tapi kegemaran membaca adalah proses budaya yang harus ditumbuhkan sejak dini. 

Budaya bukan sekedar tarian, pakaian adat, dan benda-benda peninggalan leluhur. Budaya adalah cara hidup. Proses budaya berlangsung seumur hidup. Seperti cara makan, berjalan, dan bicara, membaca adalah budaya yang harus diajarkan sejak kecil. Banyak anak telah sampai pada tahap bisa membaca tapi tidak menjadikannya budaya. Buku hanya dibuka di sekolah dan di rumah saat mengerjakan tugas. Buku jadi serupa hantu, dihindari dan ditakuti. Tiap lembarnya menjelma momok kebosanan. Aku selalu sedih ketika memberi buku pada anak tetapi orang tuanya justru berkata negatif seperti “anaknya tidak suka baca” atau “paling tidak dibaca”. Rasanya ingin teriak “anakmu tidak suka baca karena kamu tidak membiasakannya” tapi yang keluar hanya senyum kecut dan bisikan pada si anak untuk senang membaca bukunya.

Kenapa membaca (buku) sangat penting?

Dengan membaca kita akan mendapat banyak informasi, pengetahuan dan kosa kata baru. Membaca buku juga akan membuat kita terbiasa berpikir terstruktur, kritis dan analitis. Otak akan berfungsi maksimal sehingga kita akan lebih mudah berkonsentrasi dan tidak mudah lupa. Kemarin dalam sebuah seminar yang aku ikuti, ada sebuah pertanyaan tentang bagaimana menghadapi polemik adu domba yang sedang terjadi saat ini. Jawaban salah satu pembicara hanya singkat “membaca yang banyak, apa saja”.

Yap, orang yang terbiasa membaca tidak mudah diadu domba. Informasi tidak ditelan mentah-mentah karena otak akan merespon dengan kritis dan analitis. Gemar membaca tidak sekedar meningkatkan IQ (Intelligence Quotients) tapi juga EQ (Emotional Quotients). Mengajarkan anak untuk gemar membaca bisa dilakukan sedini mungkin, bahkan sudah bisa sejak trimester 3 kehamilan karena janin sudah bisa mendengar. Buku yang dibacakan tentu sesuai usianya. Untuk bayi pilih buku dengan gambar besar tanpa banyak detail latar belakang dan menampilkan kalimat sederhana dengan jumlah huruf sedikit. Hal ini agar bayi bisa fokus pada gambar terlebih dahulu sebelum beranjak untuk mengenal kata. Poin penting lainnya adalah pilih buku dengan tokoh yang paling dekat dengan bayi seperti ayah dan ibu karena ketertarikan utama bayi adalah orang tuanya.

Seperti mencari mainan yang aman, penting sekali memilih buku yang sesuai untuk anak dan bayi. Tidak hanya bahan bukunya yang harus aman mengingat bayi suka sekali memasukkan benda-benda kemulutnya, tapi juga isi cerita yang bisa menstimulasi perkembangan bayi. Buku bayi dengan bahan tebal atau board book yang aman dengan mudah bisa didapat di toko buku. Tetapi mencari isi cerita yang sesuai untuk usianya susah sekali. Jika ada, didominasi buku impor yang bikin dompet kendor. 

Lalu pencarian panjangku berujung pada perjumpaan dengan Rabbit Hole. Devi Raisa, penulis buku-buku Rabbit Hole sekaligus pemilik penerbitannya adalah seorang psikolog anak yang paham betul kebutuhan anak sesuai perkembangannya. Bagi bayi, konsep cinta yang sederhana dapat dihadirkan melalui pelukan, ciuman, dan tawa bersama orang tua. Maka dalam buku bayi Rabbit Hole yang digunakan adalah tokoh aku, ayah, dan ibu.

Anakku berusia 13 bulan, senang sekali membolak-balik buku dan menunjuk-nunjuk gambarnya. Membaca adalah salah satu kegiatan bermainnya. Buku Rabbit Hole berjudul ‘Hmmm…’ yang menceritakan 6 emosi dasar menjadi buku favoritnya. Buku ini memiliki bagian sentuh-rasa yang dapat dijadikan alat bermain menyenangkan. Anakku selalu tidak sabar untuk membolak-balik buku dan menyentuh bagian-bagiannya. Pada emosi takut diceritakan kaki lemas dan bulu kuduk berdiri. Pada gambar terdapat bulu (rambut) di tangan yang benar-benar berdiri. Anakku selalu cekikikan tiap menyentuh bagian ini. Lalu pada emosi senang ada bunga warna-warni yang bisa disentuh, saking gemesnya dipetikin juga sama anakku. Dan pada bagian akhir kalimat “bagaimana perasaanmu hari ini?” dengan cermin di sebelahnya. Sebuah penutup yang menurutku sangat bijak karena langsung melibatkan emosi anak dengan menanyakan perasaan dan pendapatnya. Sungguh luar biasa buku ini, anak diajak untuk mengenal bentuk-bentuk emosi yang bagi mereka sulit untuk disampaikan karena belum tahu dan paham. Anak yang sudah mengenal bentuk-bentuk emosi akan lebih mudah mengendalikannya dan kelak mudah bersosialisasi dengan banyak orang.

Buku lain yang jadi favorit anakku dan aku adalah Cilukba. Menurutku semua bayi sangat suka permainan ini. Melalui buku Cilukba bermain dan membaca dilakukan bersama dengan menyenangkan dan aman. Aku tidak pernah bosan membacakan buku-buku tersebut, begitu juga anakku. Tapi beberapa hari yang lalu Ia tampak tidak tertarik dengan semua bukunya. Ia demam, bermain apapun enggan. Suhu badannya 38,5 derajat celcius. Ini kali ketiga anakku demam karena tumbuh gigi. Beda dengan sebelum-sebelumnya yang panik dan penuh drama, kali ini aku lebih tenang dan kalem menghadadapi anakku. No more drama, pasalnya aku sudah sedia Tempran Syrup di kotak obat, hati lebih tenang dan aman.

Dengan rasa anggur yang enak, Tempra Syrup adalah andalanku untuk meredakan demam dan nyeri akibat tumbuh gigi pada anakku. Tidak butuh waktu lama, baru satu kali minum keesokan harinya Ia kembali ceria. Dayu kembali menggotong bukunya kesana kemari minta dibacakan dan bermain lagi. Dengan demam yang sudah hilang bermain menjadi begitu menyenangkan. Ayo nak kita bermain dan lahap bukunya dengan gembira!

***

______________

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Tempra yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho. Artikel ditulis berdasarkan pengalaman dan opini pribadi. Artikel ini tidak dapat menggantikan hasil konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional.

 

vemelinda

Menjadi ibu adalah hal paling luar biasa dalam hidup saya. Memang tidak mudah, tapi tidak perlu dibuat sulit. Banyak hal tidak terduga yang terjadi dalam hidup saya dan sebisa mungkin akan ditulis di blog ini. So… enjoy! Hubungi saya di : venantiamelinda@gmail.com

21 thoughts on “Ketika Membaca adalah Bermain yang Mengasyikkan

  • May 26, 2017 at 3:09 pm
    Permalink

    Waaa saya juga punya nih buku-buku Rabbit Hole. Lagi nungguin yang judulnya Hop dikirim ke rumah. Seneng ya liat buku buatan lokal tapi isi dan kemasannya kayak buku impor.

    Reply
    • May 29, 2017 at 2:19 am
      Permalink

      Tooosss Mbak Dini. Saya juga lagi nunggu yang Hop. Dan selalu tidak sabar dengan buku baru mereka.

      Reply
  • May 29, 2017 at 3:41 am
    Permalink

    Membaca yang banyak tidak usah takut jadi kutu buku.

    Reply
  • May 31, 2017 at 5:18 am
    Permalink

    Waduh, kalau 38.5 itu panas mbak. Sedikit lagi 40 derajat anak bisa step. Saya juga kompromi kalau anak saya panasnya tinggi. Karena panas tinggi menyerang otak. Bagi yang punya anak kecil, Tempra memang harus selalu ada di kotak p3k. Cara bijak mom untuk panas si kecil…cubit pipi buat si Mini Me…ya mbak…

    Reply
    • June 2, 2017 at 2:32 am
      Permalink

      Yang sebelumnya sampai 40,1 mbak. Sempat ngeget 2x dan aku panik banget aku. Karena gak sedia obat penurun demam anak aku kasih paracetamol punyaku. Sekarang harus selalu sedia obat penurun demam buat anak.

      Reply
      • June 9, 2017 at 12:51 am
        Permalink

        Bisa mas. Tergantung ketahanan tubuh anak juga. Ada yang 39 sudah kejang. Makanya sekarang wajib sedia penurun panas.

        Reply
  • June 5, 2017 at 1:51 am
    Permalink

    setuju bnaget, kalau anak2 hrus di didik sedari dini apalagi gemar membaca. sepertinya org Indonesia ngak suka membaca, padahal banyak banget manfaatnya.

    Reply
    • June 5, 2017 at 3:27 am
      Permalink

      Minat baca penduduk Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara. Sedih banget.

      Reply
  • June 5, 2017 at 1:33 pm
    Permalink

    Saya sedia Tempra di rumah, jaga2 kalau anak demam, soalnya dia suka dengan rasa anggurnya. Sehat selalu ya Dayu, dari kecil sudah senang baca, bagusss

    Reply
  • June 12, 2017 at 9:39 am
    Permalink

    Wah sama nih bun, Tempra Syrup obat penurun panas andalan di rumah buat anak2 saya.. Sehat2 terus ya anaknya bun 😙

    Reply
    • June 13, 2017 at 1:12 am
      Permalink

      Terimakasih bun. Kalau sudah ada Tempra lebih tenang.

      Reply
  • June 14, 2017 at 9:23 am
    Permalink

    Bun, buku itu memang penting bangets. Selamat belajar bersama si kecil. Saya juga menggunakan Tempra memang yahud 🙂

    Reply
  • June 15, 2017 at 1:13 pm
    Permalink

    Di rumah juga ada buku “Hmmm”. Lucu ya bukunya. Kreatif yang bikin. Ayoo…berburu buku lagi. Sehat terus yaa Dedenya.

    Reply
    • June 16, 2017 at 12:44 am
      Permalink

      Buku Hop sudah ready lho mom, gak harus PO lg, kemarin baru beli. Dan kereen… Anakku seneng banget. Ayo mas Bara minta bunda beliin :))

      Reply
  • June 15, 2017 at 10:44 pm
    Permalink

    Setuju sekali kalau membaca harus dijadikan budaya. Walaupun aku nggak termasuk yang bookworm tapi pengen juga ngelihat keponakan2ku suka baca. Kulihat kedua orang tuanya lebih suka nonton TV daripada baca buku atau yang lain. Mungkin satu2nya yang mereka baca hanya surat2 tagihan. Hahaha. Makanya aku seneng kalo bawa mereka ke Gramed atau toko buku lainnya. Suka ngelihat mereka excited juga kalo disuruh milih buku bacaannya, walopun kadang deg2an. Habisnya milihnya komik! :)) Tapi ya gapapa, demi menumbuhkan minat baca, suka2 mereka lah, yang penting sambil diarahkan.

    Reply
    • June 16, 2017 at 12:39 am
      Permalink

      Surat tagihan itu bacaan yang sangat sedih dan bisa bikin menitikan air mata, hahaha. Kalau ponakan suka baca komik pasti gak jauh-jauh karena ikut-ikutan omnya, hihihi. Tapi berawal dari yang disukai lama-lama akan suka semuanya. Semangat ngajak ponakan berburu buku ya Om Nuno.

      Reply
  • August 13, 2017 at 10:29 pm
    Permalink

    cara mengenalkan buku ke anak dengan tips yang bagus 😀

    waktu aku kecil dulu langganan donal bebek dan bobo trus beranjak ke manga.

    dengan cara begitu ntar anak jadi hobby baca dan ngak bakal pening saat sudah sekolah nanti (mual baca buku).

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *