Satu Ginjal dan Perjalanan Penuh Inspirasi

 7 Desember 1996

Matahari masih memendarkan sedikit cahaya di tepi cakrawala. Cahayanya sayup-sayup seolah enggan kembali ke peraduan. Senja memang menawan tetapi dia adalah penanda hari yang akan berakhir. Perlahan sinarnya menghilang dan menyisakan temaram yang segera menjadi gelap malam. Senja adalah akhir, tapi senja hari itu adalah awal dari babak baru hidup seorang anak yang mendapatkan cinta tulus dari seorang ayah.

Ketika ibu melahirkan anaknya ke dunia, saat itulah cintanya diuji. Ia mempertaruhkan nyawa untuk kehidupan baru yang berasal dari rahimnya. Lalu ayah, yang menimang dan turut membesarkan akan menjadi pahlawan sepanjang hidup anak itu. Tetapi menjadi pelindung dan pahlawan keluarga belumlah cukup bagi Themotius Sudiro. Cintanya juga diuji dengan pertaruhan nyawa ketika anaknya didiagnosa gagal ginjal dan harus melakukan operasi cangkok ginjal. Pria kelahiran 1938 itu memberikan salah satu ginjalnya, Ia bertaruh nyawa untuk kelangsungan hidup putrinya.

Malam sebelum operasi  berlangsung, Sudiro mendatangi kamar tempat putrinya dirawat sejak empat hari lalu, sebuah kamar isolasi di Intensive Care Unit (ICU). Mengenakan baju khusus dan tutup kepala Ia duduk di hadapan putrinya. Ia menatap lekat dua mata yang mulai berkaca-kaca, mata yang sama dengan mata bayi mungil di gendongannya dua puluh tahun silam. Mata anak perempuan yang Ia beri nama Ary Krisnawati.

Hening menjadi jeda antara dua orang yang tengah meluapkan emosi. Hanya mereka berdua, seorang gadis dengan cinta pertamanya. Bukankah ayah selalu menjadi cinta pertama anak-anak gadisnya, setidaknya begitu yang sering dikatakan orang. Kesunyian tak berlangsung lama, hening itu pecah bersama air mata yang luruh di pipi. Dengan lembut Sudiro mengusapnya, menggenggam erat tangan dan mengecup kening putrinya. Hal yang mungkin sudah lama tidak Ia lakukan sejak anaknya beranjak remaja.

“Masa depanmu masih panjang,” dengan suara bergetar dan mata yang juga berkaca-kaca Ia mengatakannya. Saat didiagnosa gagal ginjal Ary tengah menempuh kuliah semester dua di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Operasi berhasil dilakukan, tetapi itu baru permulaan. Memang biaya cangkok ditanggung asuransi kesehatan, tetapi biaya persiapan dan kebutuhan penunjang lainnya ditanggung sendiri. Sudiro harus menjual sawah warisan orang tuanya untuk menutup semua biaya tersebut. Obat-obatan yang harus diminum pasca transplan juga tidak ditanggung asuransi. Untuk mempertahankan ginjal cangkok itu putrinya harus mengonsumsi obat yang harganya cukup mahal bagi ekonomi keluarganya. Apa lagi saat itu terjadi krisis moneter yang menyebabkan harga obat melonjak sampai lima kali lipat. Obat itu berfungsi menurunkan kekebalan tubuh sehingga ginjal Sudiro yang telah terpasang di tubuh putrinya tidak mengalami penolakan. Dan yang paling memberatkan obat itu harus dikonsumsi seumur hidup.

Uang pensiun Sudiro yang hanya PNS golongan rendah tidak mencukupi semua kebutuhan keluarganya. Waktu itu anak bungsunya baru saja lulus SMP dan akan masuk SMA, butuh banyak biaya juga. Meski masih dalam proses pemulihan pasca operasi pengambilan ginjal, lelaki itu gigih mencari bantuan. Bapak enam anak itu sadar betul hanya ada satu ginjal di tubuhnya dan masih memerlukan penyesuaian, melakukan aktifitas berat dan kelelahan harus dihindari. Tetapi Ia tidak menghiraukannya, yang terbersit dikepalanya kala itu hanyalah bagaimana Ia bisa mendapatkan obat untuk putrinya.

Dengan mengendarai motor andalannya Honda GL 100, tanpa rasa malu Ia mendatangi yayasan, gereja, dan tempat-tempat lain yang Ia anggap dapat mengulurkan bantuan.  Menyusuri jalanan Jogja, mengetuk satu pintu ke pintu lainnya. Dengan motornya yang bisa dikatakan sudah cukup tua -keluaran 1979, generasi pertama Honda GL- tetapi masih tangguh dan bisa diandalkan untuk menempuh berbagai medan, Ia berjuang mencari bantuan. Kuda besi itu juga yang menjadi saksi penolakan demi penolakan yang Ia dapatkan. Pengharapan tidak pernah pupus, bantuan akhirnya didapatkan dari sebuah yayasan tetapi belum genap dua tahun bantuan dihentikan akibat yayasan mengalami krisis keuangan.

Di tengah krisis ekonomi keluarga tersebut, Ary akhirnya memutuskan untuk berhenti kuliah, keputusan yang berat, cita-citanya sebagai dokter harus pupus. Pasca cangkok kondisinya tidak bisa langsung pulih, Ary harus keluar masuk rumah sakit berkali-kali sehingga Ia tidak sanggup melanjutkan kuliahnya. Sebenarnya Sudiro sudah mendapat surat dari universitas yang menyatakan putrinya dianggap mengundurkan diri karena sudah lebih dari dua semester tidak aktif kuliah. Ia sengaja tidak memberitahukan kabar tersebut karena takut putrinya kehilangan semangat hidup. Saat putrinya mengutarakan untuk berhenti, saat itulah Sudiro menunjukkan surat tersebut. Ia juga kembali mencari bantuan untuk putrinya. Kembali mengetuk pintu demi pintu, menyurati kedutaan dan para dermawan. Sudiro pun kembali mendapat penolakan demi penolakan tetapi Ia tidak pernah menyerah.

5 Desember 2005

Pagi itu cuaca sangat cerah, matahari bersinar menembus sela-sela gorden jendela bangsal rumah sakit. Ary harus kembali dilarikan ke rumah sakit karena kondisinya menurun. Sejak canggok ginjal hidup Ary memang tidak bisa normal. Akibat konsumsi obat penurun kekebalan tubuh itu Ia harus bolak-balik rumah sakit akibat kondisi tubuh yang tiba-tiba bisa menurun.

Tetapi pagi itu berbeda dengan pagi-pagi lain saat putrinya menginap di rumah sakit. Pagi itu menjadi begitu pilu, seperti pagi yang sama saat Ary didiagnosis gagal ginjal. Dengan suara lirih dan berat, dokter memberi tahu anaknya harus kembali menjalani cuci darah. Kabar yang menampar hati semua keluarga. Hasil pemeriksaan menunjukkan Ia terkena serangan virus CMV. Virus tersebut merupakan penyebab tertinggi gagalnya transplantasi dan menyerang pasien akibat kekebalan tubuh yang rendah. Satu golongan dengan TORCH dan herpes, virus ini tidak dapat diobati tetapi hanya dapat ditidurkan atau dibuat tidak aktif. Serangan yang terjadi akhir November tersebut merupakan serangan kedua yang akhirnya membuat Ary kembali menjalani cuci darah.

Tiga bulan sebelum Ary dilarikan ke rumah sakit, istri Sudiro sudah lebih dulu didiagnosa kanker payudara. Pengangkatan payudara kanan harus dilakukan untuk mencegah kanker menyebar, kemudian dilanjutkan dengan kemoterapi dan radioterapi. Ekonomi keluarga kembali terguncang, dan dua orang kesayangannya harus berhadapan dengan obat-obatan dan sakit yang berkepanjangan. Kenyataan pahit itu harus kembali ditelan oleh Sudiro.

Lima tahun kemudian istrinya meninggal akibat kanker yang menyebar hingga paru-paru. Anak bungsunya telah bekerja dan merantau ke Jakarta. Kini Sudiro tinggal berdua dengan putrinya. Ia semakin tua, tetapi semangat merawat dan melindungi putrinya masih Ia lakukan. Di usianya yang sudah lewat kepala tujuh Ia masih gigih mengantarkan putrinya untuk cuci darah. Menempuh jarak 25 kilometer menggunakan motor menuju rumah sakit.

Tetapi usia tidak bisa dihindari. Saat semakin tua dan tidak sanggup lagi memacu kuda besi dua taknya, Ia memutuskan untuk membeli motor baru, motor bebek yang lebih ringan dan mudah dikendarai. Ia memilih untuk membeli motor bekas, dan pilihannya hanya satu, Honda. Tak ada lagi kompromi Ia hanya mau motor keluaran Honda. Bagi generasi Sudiro, Honda adalah satu-satunya motor yang terpercaya dan begitu membekas di hati. Honda adalah bagian dari Astra yang memiliki tujuan untuk sejahtera bersama bangsa. Dalam filosofi perusahaannya, Astra menegaskan menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Kehadirannya di masyarakat memberi dampak yang sangat besar pada perubahan yang lebih baik.

Hadirnya Astra di tengah masyarakat Indonesia sejak 1957 memberi kisah sendiri bagi setiap individu yang bersinggungan dengan produknya. Seperti Sudiro, loyalitasnya pada Honda bukan tanpa alasan. Sudah lebih dari setengah usianya Ia menyusuri jalanan bersama Honda. Ia adalah pegawai puskesmas yang memberi penyuluhan kesehatan kepada masyarakat. Dengan motornya Ia mendatangi keluarga-keluarga di pelosok desa dan mengajarkan cara hidup bersih dan sehat. Ia juga mengantarkan anak-anaknya ke sekolah untuk mengenyam pendidikan yang lebih baik, serta berjuang mencari bantuan demi pengobatan putrinya. Tanpa hadirnya Astra Ia tidak dapat melakukan semua itu, produknya telah menjadi bagian tak terlepaskan dari kisah hidupnya. Banyak suka duka telah Ia lalui dan kuda besi itu menjadi saksi. Mereka menua bersama, dan tetap tangguh hingga usia senja.

Akhir tahun ini Sudiro memutuskan tidak lagi mengendarai sepeda motor. Tahun depan Ia menginjak usia 80 dan anak-anaknya melarang Ia pergi mengendarai motor sendiri. Ary pun kini sudah sangat mandiri, kegigihan Sudiro menular pada putrinya. Meski gelar dokter tidak pernah tersemat dalam namanya, Ia tetap menjadi dokter bagi orang-orang sekitarnya. Ary aktif dalam komunitas Hidup Ginjal Muda, komunitas bagi pasien gagal ginjal dan keluarga. Karena pengalamannya Ia dianggap sebagai dokter dan motivator oleh teman-temannya. Perjalanannya menginspirasi banyak orang, menumbuhkan semangat bagi mereka yang terpuruk akibat gagal ginjal, dan Sudiro bangga akan capaian putrinya. Ia yakin sakit bukanlah akhir, tapi awal untuk menemukan jalan hidup yang akan mengubah banyak orang. Dan dengan satu ginjal yang masih bersemayam ditubuhnya, Sudiro pun masih aktif terlibat dalam kegiatan masyarakat dan gereja. Baginya usia hanya angka, jiwa tetaplah muda.

Desember 2017

vemelinda

Menjadi ibu adalah hal paling luar biasa dalam hidup saya. Memang tidak mudah, tapi tidak perlu dibuat sulit. Banyak hal tidak terduga yang terjadi dalam hidup saya dan sebisa mungkin akan ditulis di blog ini. So… enjoy! Hubungi saya di : venantiamelinda@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *